Sunday, December 19, 2010

Catatan untuk pengembang paket wisata, Moonsoon Windsurf

Jika kita ingin mengembangkan wisata minat khusus water sport windsurfing maka kita harus mencari celah diantara pasar wisata windsurf yang sudah ada. Kita harus melihat target market kita siapa dan wisatawan asal dari mana. Selain itu harus lebih jujur dalam menilai kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Pembaca boleh setuju boleh tidak dengan tulisan kali ini yang jelas ini merupakan pendapat pribadi dan hasil pengamatan dan juga diskusi sana sini.

Musim panas di Utara yaitu antara bulan Mei hingga September adalah merupakan musim liburan, tapi harus diingat, banyak spot-spot windsurf yang jauh lebih menarik di dunia ini, dengan lokasi tidak jauh dari Eropa. Menarik bukan hanya kondisi perairannya saja tapi juga karena pengelolaan yang jauh lebih maju dan profesional. Masih ditambah lagi adanya tontonan dari musim kompetisi. Disinilah letak kekurangan kita yaitu belum adanya tempat yang dikelola secara professional dan kompetisi yang bisa jadi tontonan menarik.

Kenapa bulan Januari-February? Ini disaat musim dingin di Utara. Ini adalah celah yang tidak banyak orang memanfaatkan yaitu masa winter break bagi wisatawan asal belahan bumi bagian Utara. Kenapa sasarannya wisatawan dari Utara? Karena mereka yang tidak libur saat musim panas akan liburan saat musim dingin. Karena ada sebagian lagi yang tidak tahan terus menerus berada pada cuaca dingin dan perlu sedikit pergantian suasana. Karena mereka memilih untuk stay di belahan bumi Utara saat musim panas. Karena mereka selalu mencari-cari tempat kemana bisa pergi selama musim dingin. Karena mereka masyarakat yang menyukai olah raga. Berolah-raga adalah bagian kehidupan dan budaya mereka, maka saat melakukan liburan mereka memilih tempat-tempat yang sifatnya sportif dan full action disamping keindahan pemandangan dan atraksi yang sifatnya cultural.

Dimana letak keuntungan kita? Water sport khususnya, kelebihan kita adalah suhu air yang hangat sepanjang tahun. Ini tidak dipunyai negara-negara dengan empat musim. Indonesia sebagai negara yang berada di daerah tropik, berupa kepulauan dengan wilayah perairan yang luas, mempunyai banyak pilihan dan kemungkinan. Setiap pantai dengan potensi untuk windsurfing memiliki karakter yang berbeda dari waktu ke waktu. Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pantaipun yang terus menerus sepanjang waktu mengalami keadaan yang sama, baik itu anginnya maupun kondisi airnya. Hanya ada kecenderungan kondisi yang sama yang harus jadi catatan informasi dalam memasarkannya.

Pemilihan olah raga air yang bagaimana? Ada kesalahan dalam pemahaman kita dengan istilah water sport. Menurut saya ini perlu diluruskan. Atraksi seperti Banana Boat, Parasailing, Flying Manta, tidak termasuk kategori water sport tapi di Indonesia lucu sekali permainan di air ini dikatakan sebagai water sport. Entah siapa yang memulai. Untuk sport yang mengandalkan kecepatan dan arah angin seperti windsurfing maka pemilihan waktu dan lokasi harus tepat. Cuaca dan angin dipengaruhi musim dan tekanan udara. Kecenderungan yang terjadi dari bulan Januari hingga Desember setiap bulan dicatat. Dalam satu tahun akan terlihat lokasi mana dan pada bulan apa yang memiliki kondisi angin yang konstan minimal 50:50, artinya kemungkinan angin 15 hari dalam waktu 30 hari atau satu bulan, dengan kecepatan tidak kurang dari 12 knots.

Biaya per pax juga harus jadi pertimbangan. Banyak dari kita menilai bahwa harga berapapun akan dibayar demi kesenangan dan mengira bahwa semua pelancong adalah orang kaya yang siap menghamburkan dollar. Pendapat ini harus dikoreksi, memang pelancong umumnya lebih spendable tapi sebenarnya orang asing lebih banyak yang cermat dalam berbelanja dibanding orang Indonesia. Harga yang wajar dengan reputasi yang baik adalah yang akan dilirik. Reputasi baik termasuk keadaan peralatan dengan kondisi yang dapat diterima baik.

Wednesday, November 24, 2010

Mau belajar windsurfing?

Buat yang berniat jadi pemula atau yang memang ingin sekali bisa ikut berkecipak-kecipuk di air bersama teman yang sudah memulainya terlebih dahulu maka bersiap-siaplah untuk menyisihkan anggaran belanja untuk peralatan-peralatan olah raga ini. Bila berniat menekuni olahraga windsurfing maka kita tidak bisa pinjam atau sewa terus-terusan tapi harus punya sendiri peralatan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Demi untuk windsurfing saya sebagai perempuanpun setiap saat harus rela meniadakan anggaran belanja fashion keluaran baru supaya bisa mengganti peralatan yang sudah uzur berikut assesorisnya.

Windsurfing memang bukan kesenangan murah maka perlu dipikir masak-masak saat membeli peralatan untuk yang pertama kali.


Untuk pertama kali dan juga untuk meyakinkan diri sendiri apakah memang berminat untuk belajar windsurfing bisa pinjam atau mengikuti kursus-kursus pemula, biasanya ada di tempat-tempat wisata atau hotel dan resort di tepi pantai (di Bali, di daerah Sanur dan Nusa Dua). Untuk belajar sebaiknya memang menggunakan board yang mempunyai stabilitas dan daya apung yang cukup, biasanya papan dengan volume diatas 150 Liter, soft deck dan memiliki dagger board. Dan layar yang sangat ringan karena otot-otot belum terlatih dan kita belum mengetahui trik-trik bagaimana cara yang memudahkan untuk mengangkat layar dari air. Begitu kita sudah sedikit menguasai windsurfing maka kita tidak lagi memerlukan peralatan tersebut maka dari pada buang uang untuk membeli peralatan beginner yang hanya kita pakai untuk satu tahun maka kita cari saja pinjaman, dengan catatan kalau ada yang mau kasih pinjam. Tapi kalau tidak ada yang kasih pinjam maka tempat-tempat rental umumnya mempunyai alat tersebut.


Begitu kita sudah menguasai sedikit, paling tidak sudah bisa agak lancar going up wind dan down wind, sudah tahu bagaimana melakukan manouver tacking maka sudah bisa meninggalkan papan selancar yang menggunakan dagger board. Sudah bisa memikirkan untuk membeli board yang pertama kali. Papan dan rig selanjutnya yang dibutuhkan bisa jadi tidak sama untuk setiap orang, yang jelas anak-anak, wanita dan pria bisa sangat berbeda, berat badan sangat menentukan. Banyak-banyaklah bertanya atau membaca referensi yang banyak tersebar di internet. Supaya tidak sesat di jalan bergabunglah dengan komunitas dan para pemain yang lain, disanalah kita bisa bertanya dan mendapatkan banyak informasi.

Thursday, October 7, 2010

Choosing the sails (around 6 m)

Not easy to find a sail fit to women windsurfer. Pro ladies windsurfer are different, they are as good as men. As common improver like me this is not so easy. There are not many sails in the market which are special for ladies. With 50 kg weight and do not have much muscles I need a sail which is light and handy. I see some people bought a sail because of the Pro’s use it, they bought sails they want, not sails what they need. And after that they are struggling and finally they can’t using it.

Most of the time I am using 5.8 m sail. I am using this range of sail to improve my jibe and waterstarting. The common condition wind around 10 – 14 knots, which we usually have most of the time in Tripoli and Bali. I sometimes go small when the wind getting hard to control but this condition not often we have. I have Kurze from Ka Sails (2006) and North Sails Drive light (I don’t remember the year maybe 2006 type) both are 5.8 m. One for Bali and one for Tripoli. After 4 years my Ka Kurze is getting old and ware off, already have lots of sticker patch, hole every where like a cheese. Now I need a new one to replace it.

We have Severne Mojo 6 m 2010 but it is not the sail for light wind (10-12 knots), it is not as handy as my others in this range size and I am not happy. It is not a sail for me. We have another 6 m Gun Flash and it is strong but heavy. The Ka Kurze is unforgettable for me, it is handy and extremely light, it is stable, it has huge range of wind, I am still planning even when the wind just below 10 knots, soft in the gust, and when the wind pick up to 15 knots I am simply running much faster but I still can handle it. I really like to have the same like this but since long time this type is discontinue. What a pity.

Finally I get Loft Advance 2010. I am quite happy with it. First because it is light and handy, smooth and soft in the lul. But in the speed it cannot beat the Ka Sail Kurze. Good that these sails are light so I can go bigger. I said ‘these’ because for replacing one Ka Kurze with Loft Advance for the same wind range I need two, size 5.8 m dan 6.5 m.

How about my North Sails Drive Light ? Difficult to say that this is a bad sail for me. It is less light compare to the Ka Sail Kurze, but just fine as it is quite handy. What is amazing for me, this sail has the same performance even when I am rigging it bad. It is not so sensitve in the way we are rigging it. Which is good. As most of the time women have problem in down hauling. We are depending to our partner and or friends which help us to down hauling during rigging.

Wednesday, August 4, 2010

Pelaksanaan penjualan paket wisata minat khusus windsurfing.

Ada beberapa point yang saya coba rumuskan dan menurut saya perlu jadi bahan masukan bagi yang berminat mengembangkan paket wisata windsurfing:

1. Kesan buruk akan mempengaruhi reputasi dan pertumbuhan di masa-masa mendatang.

Karena kita akan melangkah untuk mengolah kegiatan windsurfing bagi wisatawan dengan minat khusus maka pelaksanaannya pun harus dilakukan berdasarkan berbagai kajian-kajian yang mendalam pada faktor-faktor pendukungnya.

2. Pemilihan lokasi dan waktu yang tepat adalah mutlak.

Perlu diperhatikan adalah mengenai lokasi dan waktu. Tempat harus merupakan lokasi untuk windsurfing dengan keberadaan air dan angin yang memungkinkan terlaksananya kegiatan windsurfing selama wisatawan datang dan tinggal.
Windsurfing tidak bisa dilaksanakan setiap saat karena keberadaan angin tidaklah ada setiap saat. Angin terbentuk karena adanya aliran udara yang dipengaruhi oleh suhu dan tekanan udara. Kalender dan musim menjadi patokan. Perlu adanya penelitian-penelitian dan pencatatan yang sangat detail.

3. Ketersediaan infrastruktur.
Penyediaan sarana penginapan bukanlah hal yang berat untuk dipersiapkan apabila kajian dan penelitian yang menyangkut lokasi sudah dilaksanakan. Sistem homestay dan desa wisata akan lebih baik untuk penduduk sekitar pantai dan masyarakat kepulauan. Desa wisata yang bagaimana? Maksud dari desa wisata adalah masyarakat bisa mengembangkan sebagian dari tempat tinggalnya untuk bisa menjadi tempat penginapan wisatawan yang datang. Harus dihindarkan pembangunan resort dan hotel bintang 5, karena nantinya justru hanya menambah beban berat lingkungan dan membuat ketimpangan sosial.

Yang berat adalah penyedian infrastruktur, jalan-jalan darat, pelabuhan udara maupun pelabuhan laut, dan sistem transportasi. Traveling dengan membawa peralatan windsurfing tidaklah mudah. Baik untuk operator wisata penyedia layanan maupun bagi perorangan. Penerbangan antar pulau khususnya di Indonesia dimana banyak kemungkinan terjadi ‘islandhoper’ (bukan grasshoper = belalang) maksudnya berpindahnya seorang wisatawan dari satu pulau ke pulau lainnya, harus memungkinkan untuk seorang wisatawan membawa peralatannya dalam pesawat komersil. Atau dengan alternatif transportasi antar pulau lainnya yang semakin praktis.

4. Sarana dan peralatan, penyedia jasa operator wisata, sumber daya manusia, untuk pelayanan dan instruktur pelatih bagi pemula.
Peran Organisasi PORLASI dalam hal ini bisa sangat penting dalam menyediakan sumber daya manusia. Dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan dan sertifikasi untuk tenaga-tenaga jasa service/pelayanan tempat persewaan dan tenaga instruktur. Pelatihan pengetahuan tentang keselamatan lebih baik jika dilakukan oleh badan dan organisasi yang memang bidangnya.

Masalah sarana dan peralatan, kita bisa saja menyelesaikan persoalan dengan mengundang investor asing atau pengusaha kelas kakap. Seperti windsurfing center yang dibuat di Bintan Resort Mana-Mana yang dikelola perusahaan yang berbasis di Singapore. Tapi siapa yang diuntungkan dengan adanya investor besar? Kita harus menolak hadirnya investor kelas kakap dan investor asing karena akan mematikan keberadaan masyarakat pantai pengelola tempat persewaan yang sekarang ada. Yang harus kita lakukan adalah pembinaan dan pengayoman. Keberadaan dan ketersediaan peralatan dipasaran akan memudahkan mereka, dan dengan harga terjangkau akan menjadikan harga persewaan yang lebih realistis sehingga dapat menghidupkan usaha mereka. Selanjutnya ada terjalinnya kerjasama yang baik antara operator wisata dengan pengusaha persewaan.

Tuesday, August 3, 2010

Pengembangan Windsurfing dalam bidang tourisme

Wisata Bahari. Pasti semua setuju kalau kata ‘wisata’ ini bermakna sebuah kegiatan bersenang-senang saat liburan menikmati sebuah kegiatan diluar kegiatan keseharian dan bekerja, sementara kata ‘bahari ‘ bermakna semua bidang ke-maritiman dan kelautan. Sehingga kata wisata bahari bisa bermakna bersenang-senang di atas laut, di dalam laut atau di sekitar laut. Banyak cara ber-wisata dan bersenang-senang menikmati keindahan alam di sekitar laut, Windsurfing atau selancar angin adalah salah satunya.

Bila kita ingin mengembangkan windsurfing sebagai bagian dari marine tourisme maka kita harus mengembangkan windsurfing lebih luas bukan hanya mengacu pada olah raga sailing atau berlayar. Apakah ini berarti windsurfing harus keluar dari cabang olah raga layar dan membelot dari pakemnya? Salah besar. Tidak sama sekali, justru gagasan saya adalah mengembangkannya seluas-luasnya dari yang selama ini kita ikuti, sejalan dengan perkembangan windsurfing yang terjadi di dunia.

Menempatkannya dalam wadah organisasi lama atau wadah organisasi baru sebenarnya bukanlah masalah utama yang jadi penghalang berkembangnya windsurfing. Wadah bukanlah persoalan yang seharusnya menjadi penghalang. Persoalan yang sebenarnya yang kita hadapi dalam perkembangan windsurfing di Indonesia adalah keterkaitannya dalam kebijakan-kebijakan ekonomi negara, keuangan, perdagangan, perpajakan, investasi modal asing dan sebagainya. Dimana peraturan pemerintah dan perundang-undangan sangat sering dipergunakan secara sepihak oleh penguasa dan orang-orang yang berkepentingan untuk memperkaya dirinya sendiri dan kelompoknya (banyak kejahatan terorganisir dalam tubuh pemerintahan) sehingga sangat menyakitkan pelaku usaha dan menghambat tumbuh kembangnya bidang-bidang yang khusus didalam masyarakat.

Memang jika ada wadah organisasinya maka kepentingan kelompok dapat diperjuangkan. Mampukah Porlasi yang sekarang ini mewadahi windsurfing untuk jadi corong komunitas windsurfing? mengingat keberadaannya dikasta yang paling rendah dibandingkan dengan bentuk olah raga layar yang lain. Sementara itu juga keadaan di Indonesia untuk kegiatan tourisme windsurfing masih jadi pelengkap sarana sementara di banyak negara-negara yang mengandalkan kehidupan mereka dari tourisme mereka sudah mengolah kegiatan windsurfing ini sebagai bentuk dari tourisme dengan minat khusus. Menjualnya dalam satu kemasan berbentuk paket wisata.

Sebagai contoh seorang peminat windsurfing ingin melakukan liburan dengan aktifitas windsurfing pada lokasi tertentu. Orang tersebut menghubungi sebuah agen wisata dengan spesialisasi menjual paket wisata windsurfing. Agen tersebut akan mengatur semua kebutuhan perjalan wisata orang tersebut. Mengatur booking tiket menuju lokasi tersebut, mengatur hotel dan penginapan yang dibutuhkan dalam kurun waktu tertentu, berikut menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan dalam melakukan aktifitas yang diinginkan. Jadi sekali lagi maksudnya dalam satu kemasan paket berarti mulai dari penginapan akomodasi, peralatan windsurfing, dan lokasi berikut transportasi.

Thursday, July 29, 2010

Setelah Sail Banda 2010 lalu bagaimana?

Saya benar-benar iri dengan pebisnis windsurfing di Brazil. Pemerintah Brazil men-support habis-habisan pendirian windsurf center di wilayah pantai bagian utara negara tersebut. Demi untuk mengundang lebih banyak wisatawan datang ke Amerika bagian Selatan terutama Brazil. Dan sepanjang pantai di bagian Utara Brazil saat ini tumbuh subur banyak sekali windsurf center yang besar. Foto-foto kegiatan windsurfing dan videonya muncul dalam iklan-iklan wisata mereka, "Brazil is calling". Mereka membagi-bagikan secara gratis video windsurfing dari spot-spot windsurf di Jericoacoara dan Icaraizinho kepada pembeli majalah-majalah windsurf (yg berarti pecinta windsurf) di Benua Eropa.

Saya bukan cuma sangat iri dengan keadaan di Brazil tapi juga saya iri dengan keadaan di Mesir. Lihat saja sepanjang pantai Timur wilayah Mesir di kawasan laut Merah dipenuhi dengan windsurf center. Dan jumlah turis yang datang ke Mesir berlipat-lipat jumlahnya dibandingkan dengan yang datang ke Indonesia. Mereka bukan datang karena cuma ingin lihat Pyramid tapi karena adanya fasilitas liburan wisata bahari yang ada di sepanjang laut Merah dari lembah Sinai hingga ke ujung paling Selatan wilayah Mesir. Pyramid saya sudah lihat dan kalau dibanding dengan candi Borobudur kurang lebih sama. Seni dan art Mesir memang menarik tapi seni dan art Indonesia juga sama menariknya. Keindahan laut Merah, biota lautnya juga sama dengan biota laut yang ada di Indonesia karena sama-sama dari laut Tropis. Malah pantai-pantai yang ada di Indonesia lebih eksotis. Bukan cuma itu, perilaku orang Indonesia juga jauh lebih baik dari orang Mesir. Permasalahannya bukan kita kurang promosi wisata, dari jaman penjajahan, jaman kolonial, semua orang tahu keindahan Indonesia, pulau-pulaunya, pantai-pantainya, sungai, gunung, hutan dan rimbanya orang membayangkan seperti itu lah surga, karenanya mereka rela berlayar jauh hingga ke Maluku dan mati-matian berperang mempertahankan pengaruh mereka di Nusantara.

Sejak saya mulai memutuskan bersama suami memulai bisnis windsurfing yang ada kaitannya dengan kegiatan pariwisata bahari kita melihat kenyataan bahwa hambatan yang utama ada di orang-orang dalam pemerintahan, undang-undang yang berlaku, birokrat dan pembuat undang-undang. Semua itu hambatan yang paling besar sementara di atas panggung pemerintah berakting layaknya mereka mempunyai keinginan yang sama seperti kita berkeinginan untuk kemajuan bangsa ini dan kemajuan wisata bahari khususnya. Kenyataan yang ada dilapangan sangat bertolak belakang dengan propaganda yang dibuat oleh pemerintah. Tidak ada keinginan yang sungguh-sungguh dalam elemen pemerintahan (masyarakat yang ada dan duduk dalam pemerintahan) untuk mewujudkan visi dan cita-cita bangsa. Mereka tidak punya visi atau mereka menjadi linglung saat mulai menempati kursi tinggi, jabatan tertentu, pos-pos tertentu dalam sebuah lembaga pemerintahan, dan mereka terkesima melihat bahwa mereka berada pada posisi yang bisa bergelimang harta. Mereka mempertahankan kedudukan dan posisi itu mati-matian bukan menerapkan pengetahuan yang mereka punya untuk membentuk sebuah system yang membangun seluruh bangsa tetapi membentuk system yang kuat untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Seperti kita tahu Departemen Pariwisata saat ini menyelenggarakan Sail Banda 2010, mengeluarkan dana besar untuk itu, promosi wisata bahari, promosi wilayah Indonesia bagian Timur, katanya. Tujuannya promosi apa? Hanya untuk : Ini loh ada kegiatan berlayar dengan kapal-kapal layar, orang-orang berdatangan dari luar negeri yang katanya dari 19 negara bersama dengan ratusan kapal-kapal layar mereka berlayar dari Darwin menuju Banda, nonton tari-tarian dan makan-makanan orang Maluku? Hanya sampai disitu? Bentuk wisata bahari seperti apa yang orang-orang pemerintah itu mau sebenarnya? Kegiatan Sail Banda 2010 bukanlah satu-satunya dan pertama kali kegiatan promosi sailing yang pernah dilakukan pemerintah karena sebelumnya ada Sail Bunaken 2009 dan banyak kegiatan berjudul Sail-Sail lain-lainnya.

Windsurfing, adalah olah raga yang dilakukan di air dengan sebilah papan dan layar yang tertancap. Ini adalah kegiatan berlayar di kasta yang paling rendah dari berlayar di jaman modern ini. Coba lah cari fin bagian paling penting dari papan windsurfing yang sering kali rusak atau hilang atau bahkan seutas tali harness atau satu buah baut stainless steel yang sesuai untuk memperbaiki peralatan windsurfing, adakah tersedia di toko di Indonesia? Yang saya tahu itu cuma ada di toko kami di Bali. Orang-orang di pemerintahan, Presiden, para Menteri, Menteri Pariwisata, Menteri Kelautan, tidak ada yang tahu betapa sengsaranya lahir dan bathin kami untuk bisa mendirikan toko kami itu, yang kami kira bisa menjadi pendukung utama salah satu dari elemen wisata bahari. Dan yang kami kira bisa menjadi pendukung bagi windsurf center di Indonesia. Dan saya kira yang menderita bukan cuma saya pemilik toko windsurfing tapi seluruh tempat rental yang ada di Bali bahkan mungkin seluruh Indonesia Timur kalau ada. Dengan berbagai macam penderitaan karena tidak adanya dukungan dari elemen pemerintahan maupun undang-undang yang ada. Terus dana besar untuk penyelenggaraan promosi wisata bahari bernama Sail Banda 2010 dan Sail lain-lain itu untuk apa? Jika untuk mengembangkan elemen paling kecil saja kami kembang kempis dan harus bertarung dengan kebijakan dan undang-undang yang siap menerkam dan mematikan usaha kami.

Semoga tulisan unek-unek ini bisa membawa kita pecinta windsurfing dan pebisnis windsurfing di Indonesia berjalan kearah yang lebih baik. Semoga dengan adanya Sail Banda 2010 dan dana besar yang dikeluarkan untuk penyelenggaraannya yang saya manfaatkan momentnya untuk menyampaikan unek-unek ini memang bermanfaat bagi industri wisata bahari seperti yang dicita-citakan.


Wednesday, July 21, 2010

Windsurf Trip Farwa, Libya July 2010


The place is about 30 km from the Tunise border. It is still in Libya teritory. Not much people know this village except people living in Libya and love wind sport, means sport like windsurfing or kite surfing. The small long island made only from sand protecting the small harbour. The small island called Farwa. I don't really know the name of the village. People always called it Farwa the same name as that small island but I am not sure this is the right name. If we driving from Tripoli we have to pass the small city called Swara then leave the main access cross border road to the beach road. It is one of industrial village of Libya. As a marking you can find 2 big factory, ceramics and tiles factory at the left side and chemical and plastic factory at the right side. After the chemical factory there's a camp of the workers and just before the street continue to the main street there's a small fish factory. You have to leave the asphalt road in front of this fish factory to the unpave road and just right side of it you can see the steel gate to the hotel. The only hotel in this area. If you not familiar with the area will be difficult to find the place. Hans was several time went there until finally he found the hotel. To drive from Tripoli needs around one and half hour to reach this village with avarage speed 120km per hour. The hotel is small but okey, avarage standard hotel with Libyan style. It is clean and quite, people are friendly. We love the Libyan food they have for dinner. It just standard Libyan food but taste good and you will get full menu, salad, soup, main dish couscous with haruf and fish, and after a bowl of apples and bananas.


The live looks very simple there. Before the dusk come women and kids chilled out at the beach. In the morning people are working, kids going to school and women stay in the house. The village is very quite during day time. Nothing special in this village except the wind. I think this village is the most windiest place in Libya and almost a whole year you can go for windsurf and kitesurf, in any direction of the wind. Summer and winter. 'When we are not able to windsurf in any other place in Libya we always can windsurf there', that's what Hans said.

Corner part of the lagoon the water is too shallow and we have to walk far until reach the deeper water. So the starting place for windsurf and kitesurf is in front of the factory camp. The lagoon has flat water and at the starting place the water only waist deep. Because the water is not deep and it is so flat so it is perferct for somebody start learning kitesurfing. It has big sandy open area at the beach for launching the kite. The lagoon it self also long and wide so tens of kiters will not make the water become crowded. It also perfect for windsurf. And for the storm chaser it is also the right place. One time we was in Farwa during winter time I was not able to windsurf there. The wind blowing so strong more than 20 knots. Everything is blown away, the beach chairs, the food, putting the beach umbrella is a mission imposible. My other problem is the water so cold. I have 3.5 mm wetsuit which is good enough but when the finger is frosting it is so difficult to hold anything.


April to June we have good wind in Tripoli specially Regatta thats why we don't like to drive far to windsurf. But July in Tripoli not much windy days we have very few really good wind so we start thinking to go Farwa where always wind. Now it is the third time for me to go there for windsurf. It was a week ago. We checked our windguru and it said that for our weekend at Friday the wind will be around 12 knots and as usual the summer thermic wind start around 2 pm. In Friday morning we check once again the weather forecast we compare windguru and windfinder, it showed almost the same prediction. So we pack our car with some of our equipment including beach matt and chair, then at 12 am we left the house. Driving is easy on Friday and normally the street is always quite, people are going to the mosque or just stay at home. Before 2 pm we arrived, we could feel that the wind already coming, we made reservation in the hotel and then heading direct to the beach after. At 2 pm the wind start picked up and when after we finished put out all the equipment from the car the wind is reach avarage of 14 knots. Stronger than what we expecting. The wind was picked up more but I am not measured it again. I just take a rest when the wind getting stronger and I was over power. We were 3 cars, 3 windsurfer and 2 kiters. I had a good time with my 5.8 m sail and 120L board. What I like most from this trip is, we can stay late up to 8 pm and I have not to cook after. Because the nice dinner is ready for us. I haven't any picture during windsurf because when we are all in the water nobody taking pictures.